Posted by : Sarah Larasati Mantovani Wednesday, 2 September 2015

Andung Azizah (Kiri) dan ibu saya (kanan)
"Kalian beruntung sekarang tak susah-susah lagi untuk cari ilmu, ulama kita dulu harus berjalan jauh ke surau demi cari ilmu", nasehat andung Azizah Hamka pada kami bertiga (saya dan kedua cucu andung, Akbar dan Iqbal).
Tak disangka, sehari sebelum peringatan 34 tahun kepergian Buya Hamka yang jatuh pada hari ini dan di saat saya masih menyelesaikan tulisan bersambung saya tentang Hamka yang Melegenda, saya dan keluarga mendapat kejutan tak terduga berupa kunjungan silaturahmi dari salah satu keluarga Buya Hamka pada Kamis kemarin (23/07/2015).
Siang itu menjadi hari bersejarah, tidak hanya soal kunjungannya saja tetapi juga obrolan kami berubah menjadi diskusi sejarah, tak peduli pada matahari yang sinarnya begitu cerah hingga membuat gerah dan wajah lelah, walau demikian suasana tetap meriah (eh keterusan tongue emoticon ).
Banyak cerita menarik yang kami dapatkan dari andung Icah (nama kecil andung Azizah), di antaranya tentang Masyumi dan PKI. Sudah banyak tertulis dalam sejarah jika Masyumi dan PKI merupakan musuh bebuyutan satu sama lain. Kisah tentang permusuhan ini masih kental terlekat dalam ingatan andung.
Waktu itu orang-orang PKI mengejek Haji Agus Salim yang sedang berpidato dengan menirukan suara kambing, "embeeekk... embeeekk", hal ini karena janggut Haji Agus Salim menurut orang-orang PKI mirip hewan berkaki empat itu.
"Saya mau menanggapi jika kambing-kambing ini keluar dari ruangan atau mereka bisa berbicara dengan bahasa yang sopan", dengan elegan dan diplomatis Laki-laki yang ahli dalam tujuh bahasa ini menjawab ejekan tersebut*.
Ki-kanan: Akbar, Nambo, Ibu, Andung, Mama, Papa,
kakak, saya. Sayang Iqbal ga ikut foto :p
Ada pula kisah lain dari salah satu tokoh Partai Komunis Indonesia yang terkenal dalam sejarah, D.N Aidit yang mempunyai nama asli Djafar Naim Aidit**. Saat itu istrinya sudah tiga hari sakit dan belum juga dibawa ke dokter, akhirnya oleh salah satu tokoh Masyumi (kalau saya tidak salah dengar, Mohammad Natsir) Aidit ditanyai, "kenapa kau tidak bawa istrimu ke dokter?", kemudian laki-laki berdarah Minang ini menjawab, "karena saya tidak punya uang", akhirnya atas biaya tokoh Masyumi tersebut, istri Aidit bisa dibawa ke dokter.
Pelajaran yang bisa diambil dari dua kisah di atas ialah tidak perlu bersikap reaktif saat diejek atau dihina lawan, karena dari sana akan terlihat mana yang akhlaknya lebih baik, kemudian jangan kita membenci seseorang atau suatu kelompok hingga hilang rasa adil kita, terakhir walau Masyumi dan PKI bermusuhan namun jika salah satunya ada kesulitan, tetap harus ditolong.
MasyaaAllah... tarimo kasih untuak pelajaran nan alah dibagi, andung :')
Terima kasih banyak juga untuk hadiahnya Ibu dan Akbar :')
Barakallahu fiikum wallahu yahfazhukum wayar'aakum...
*correct me if i'm wrong
** sumber dari Prof. Ahmad Mansur Suryanegara saat seminar Islam dan Nusantara pada tanggal 05 Juli 2015 di Aula Gedung Djoeang, Menteng, Jakarta Pusat

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Journalicious - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -