Posted by : Sarah Larasati Mantovani Wednesday, 2 September 2015

Kiri-kanan: Iis, Nana, Aryu, Sahlah, Uum, Wulan, Nofa, Saya
Kantor Hidayatullah Media Grup, Januari 2014.
"Jika Cherrybelle disatukan oleh ikatan manajemen, maka kami disatukan dengan ikatan Pemikiran"

Rabu 06 Maret 2013, sembilan perempuan datang dari latar belakang budaya, keluarga, pendidikan, tempat tinggal dan kepribadian berbeda dikumpulkan dalam satu Aula di sebuah rumah yang akhirnya akan menjadi Pesantren Mahasiswa. Pada awalnya, kami berjumlah sepuluh (yang satu lagi alumni Sejarah Universitas Indonesia), hanya satu gugur dengan sendirinya karena tidak hadir pada briefing hari itu.
Kami memang sengaja dikumpulkan untuk mengemban sebuah amanah dan misi besar. Jelas kami menyebut ini amanah besar karena umat membiayai kami untuk belajar, menempa fisik dan mental dengan sebaik-baiknya agar kelak kami siap terjun ke lapangan, melaksanakan misi mengabdi pada masyarakat, berjihad mencerdaskan umat.
Sembilan orang itu ialah mba Nurul Ummatun, mba Nofa Nur Rahmah, mba Dewi Wulandari, saya sendiri, Sri Hartati, Imroatul Istiqomah, Anindya Aryu Inayati, Miftahul Jannah dan Kabul Astuti.
Mba Nurul atau mba Uum merupakan alumni Sarjana Ekonomi Universitas Muhammadiyah Surakarta yang berasal dari Tuban, Jawa Timur.
Mba Naufa Nur Rahmah Susilowati atau Nofa merupakan alumni Sarjana Gizi Universitas Prof. Dr. Hamka Jakarta yang tinggal di Jakarta Timur.
Mba Dewi Wulandari atau mba Wulan merupakan alumni Kedokteran Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta yang tinggal di Jakarta Selatan.
Saya sendiri merupakan alumni Fakultas Hukum Universitas Pamulang yang tinggal di Depok, Jawa Barat.
Sri Hartati atau kami memanggilnya dengan nama Sahlah merupakan alumni Sarjana Syariah Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Balikpapan yang berasal dari Makassar.
Imroatul Istiqomah atau Iis merupakan alumni Sarjana Aqidah dan Filsafat Universitas Darussalam Gontor, Ponorogo dan berasal dari Madiun.
Anindya Aryu Inayati atau Aryu merupakan alumni Sarjana Ekonomi Syariah Universitas Darussalam Gontor, Ponorogo yang tinggal di Kendal.
Miftahul Jannah atau Kim Nana merupakan alumni Sarjana Syariah STIS Hidayatullah Balikpapan yang lahir di Toli-toli, Sulawesi Selatan.
Terakhir adik kami, Kabul Astuti atau Tuti merupakan alumni Sarjana Sastra Indonesia Universitas Gadjah Mada Yogyakarta yang tinggal di Kulonprogo, Yogyakarta
We are not Cherrybelle
Santriwati Lir Ilir, demikian kami dinamakan oleh asatidz kami di Pusat Studi peradaban Islam (PSPI) Solo, salah satunya pak Arif Wibowo. Terinspirasi dari tembang Sunan Kalijaga berjudul "Lir Ilir" yang bermakna membangunkan umat untuk menegakkan Tauhid, memberikan teladan pada masyarakat agar tidak menjadi orang yang melarat yaitu dengan melaksanakan shalat. Melihat dari penamaannya saja, asatidz kami memang sangat ingin agar kelak kami bisa menebar manfaat untuk umat, apapun itu bentuknya dan dengan cara atau jalan apapun asalkan bukan dengan jalan yang diharamkan-Nya.
Hari demi hari kami lalui untuk menyambungkan koneksi hati, merajut silaturahmi, syukurnya tidak terlalu lama untuk kami menemukan chemistry. Datang dari latar belakang budaya dan kepribadian berbeda, tidak jarang pula di antara kami ada konflik, namun hal itu kami anggap biasa, sebagai tanda bahwa kami saling memperhatikan dan menyayangi satu sama lain.
Kemana-mana selalu bersembilan, pergi Daurah, mengikuti seminar, menghadiri kajian bahkan makan siang di kantin sebelum mulai perkuliahan. Hingga ibu kantin hafal dengan wajah kami dan selalu bilang "Oooh ini mbak-mbaknya yang bagian dari sembilan itu yaa", begitu pula petugas Tata Usaha di lantai empat yang selalu kami sambangi "ini mbak-mbak Lir Ilir yaa". Sampai kami suka geli sendiri.
Selama enam bulan, dari bulan Mei sampai November, mental dan fisik kami ditempa dengan kuliah pertanian dan itu dilakukan hampir setiap jam tujuh pagi. Tidak hanya kuliah pertanian, tapi juga kuliah kebudayaan, Tafsir Qur'an, Sejarah, Aqidah, Bahasa Arab, juga kadang diselipkan kuliah Pra-Nikah dan Kerumahtanggaan, untuk yang terakhir ini karena asatidz kami menyadari bahwa kelak kami akan menjadi Madrasah Peradaban.
Tentu kami bukan Cherrybelle yang disatukan dengan ajang pencarian bakat dan manajemen kemudian berpisah karena tidak ada lagi kesepahaman, kami juga menyadari masih sangat jauh dari Wali Songo walau jumlah kami adalah sembilan. Kami tetap Santriwati Lir Ilir, dengan obsesi dan impian masing-masing berusaha untuk mensinergikan dengan obsesi dan impian asatidz kami. Allah sengaja mempertemukan kami dan menyatukan kami dengan ikatan pemikiran agar kelak kami bisa menyulam peradaban.
Wisuda 8 Santriwati Lir Ilir 22 Agustus 2015,
sedangkan Tuti sudah terlebih dulu diwisuda pada Maret 2015
Ini perjuangan yang tidak mudah karena tantangan dakwah yang begitu besar di depan mata kami dan permasalahan umat yang begitu kompleks semakin menuntut kami untuk menjawabnya, belum lagi ditambah ekspektasi orang-orang yang begitu besar pada kami, jelas kami tidak bisa untuk tidak belajar dengan keras walau kami menyadari, kami masih banyak kekurangan di sana sini.
Kini kami harus dipisahkan untuk sementara waktu oleh medan dakwah masing-masing, ada yang ke Ponorogo, ada yang di Klaten, ada yang akhirnya menetap di Yogya, ada yang kembali ke Balikpapan, sementara saya sendiri terpanggil kembali ke Jakarta. Tentu kami berharap semoga Allah dapat mempertemukan kami lagi suatu saat nanti sebelum kami dipanggil Ilahi. Semoga pula kami sentiasa istiqamah mengabdi pada umat dan semakin bermanfaat untuk masyarakat.
"Aaah tetiba saja memori tentang kebersamaan kita menyeruak.. teringat bagaimana awal perjumpaan kita, masa-masa menuntut ilmu yang begitu memukau hingga segala masalah yang pernah ada.. semoga semua itu turut membentuk kita yang baru, kita yang lebih baik. terima kasih atas semua pelajaran yang pernah ada, bersemangatlah kawan dimana pun kalian berada.. biar kita menyebar membentuk warna-warna indah dimana-mana, kalian menempati tempat teristimewa di hati. Selamat mengabdi, semoga silaturahmi ini kekal hingga ke syurga-Nya.. amiin ya robbal 'alamin" (mba Wulan)
Salam sepenuh cinta untuk para guru kami di PSPI: pak Arif dan istri buLenny Herawati Masitoh, pak Bobby Rohman, ust Muhammad Isa Anshory, ust Burhan Shadiq Dua dan istri ustadzah Dwisusi Wardani, bu Dewi dan suami, ust Qowiy, ust Abdullah Khoir. Terima kasih atas segala pelajaran yang pernah diberikan :')

Kereta Tawang Jaya Semarang - Jakarta, 24 Agustus 2015, 17.37 WIB

{ 1 comments... read them below or add one }

  1. Assalamualaikum wr.wb mohon maaf kepada teman teman jika postingan saya mengganggu anda namun apa yang saya tulis ini adalah kisah nyata dari saya dan kini saya sangat berterimah kasih banyak kepada Mbah Rawa Gumpala atas bantuan pesugihan putihnya tampa tumbal yang sebesar 15m kini kehidupa saya bersama keluarga sudah sangat jauh lebih baik dari sebelumnya,,saya sekaran bisa menjalanka usaha saya lagi seperti dahulu dan mudah mudahan usaha saya ini bisa sukses kembali dan bermanfaat juga bagi orang lain,,ini semua berkat bantuan Mbah Rawa Gumpala dan ucapa beliau tidak bisa diragukan lagi,bagi teman teman yang ingin dibantuh seperti saya dengan pesugihan putih bisa anda hubungi di no 085 316 106 111 jangan anda ragu untuk menghubuni beliau karna saya sud ah membuktikannya sendiri,karna Mbah tidak sama seperti dukun yang lain yang menghabiskan uang saja dan tidak ada bukti sedankan kalau beliau semuanya terbukti nyata dan sangat dipercay,,ini unkapan kisah nyata dari saya pak Rudi di semarang.Untuk lebih lenkapnya silahkan buka blok Mbah di ��PESUGIHAN PUTIH TANPA TUMBAL��

    ReplyDelete

- Copyright © Journalicious - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -