Posted by : Sarah Larasati Mantovani Friday, 29 April 2011

“Karatau madang dahulu, babuah babungo alun,
Marantau bujang dahulu, di rumah paguno balun”*

Selain terkenal dengan Rendang dan Rumah Gadangnya, daerah Minangkabau atau Padang juga terkenal dengan kebiasaan merantaunya. Dimana hal ini bisa kita lihat pada karya-karya sastra yang di buat oleh urang Minang itu sendiri, di antaranya novel karya Hamka yang berjudul Merantau ke Deli dan Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, atau novel karya Marah Rusli yang berjudul Siti Nurbaya dan Salah Asuhan-nya Abdul Muis, terakhir karya sastra tentang adat merantau yang menjadi best seller adalah novel karya Ahmad Fuadi “Negeri 5 Menara”. Selain itu, kebiasaan merantau ini juga pernah di kisahkan dalam film Merantau karya sutradara Inggris-Gareth Evans.


Hmm… mungkin bagi kita yang bukan orang Padang tentunya penasaran, sejak kapan merantau menjadi kebiasaan masyarakat Minangkabau? Dan karena sebab apa mereka merantau? Apakah karena faktor ekonomi? Ataukah karena ada faktor lain?. Faktor ekonomi memang menjadi salah satu penyebab, tapi bukan itu yang menjadi penyebab utamanya. Berikut ini adalah 3 faktor utama yang menyebabkan orang Padang merantau :

• Faktor Budaya

Dari hukum adat yang pernah saya pelajari selama bangku kuliah, Hukum Adat Indonesia mengambil empat cara untuk menarik garis keturunan : Patrilineal (Patrilineal Descent) yaitu garis keturunan di tarik dari pihak Ayah atau melalui pihak laki-laki saja, lalu ada Matrilineal (Matrilineal descent) yaitu menarik garis keturunan dari pihak Ibu atau melalui pihak perempuan saja, Bilateral atau parental (Bilateral descent) yaitu garis keturunan bisa ditarik dari pihak ayah atau dari pihak Ibu dan terakhir adalah Bilineal (Bilineal Descent) yaitu menarik garis keturunan melalui orang laki-laki saja untuk sejumlah hak dan kewajiban tertentu dan melalui wanita saja untuk sejumlah hak dan kewajiban yang lain. (Soerjono Soekanto, Hukum Adat Indonesia, Rajawali Press, Jakarta, 1983, hlm. 49-54).

Dalam hal ini, masyarakat Minangkabau menarik garis keturunannya hanya dari pihak Ibu atau perempuan (matrilineal descent). Nah, karena sistem kekerabatan matrilineal inilah maka penguasaan harta pusaka dipegang oleh kaum perempuan, sedangkan hak kaum laki-laki dalam hal ini cukup kecil. Selain itu, setelah masa akil baligh para pemuda tidak lagi dapat tidur di rumah orang tuanya, karena rumah hanya diperuntukkan untuk kaum perempuan beserta suaminya, dan anak-anak. Siapa pun yang tidak pernah mencoba pergi merantau, maka ia akan selalu diperolok-olok oleh teman-temannya. Maka, hal inilah yang menyebabkan pemuda Minang memilih untuk merantau.
Menurut Rudolf Mrazek, sosiolog Belanda, ada dua tipologi budaya Minang, yakni dinamisme dan anti-parokialisme. Dari dua tipologi inilah akan melahirkan jiwa yang merdeka, kosmopolitan, egaliter, dan berpandangan luas, hal ini menyebabkan tertanamnya budaya merantau pada masyarakat Minangkabau serta pepatah Minang yang mengatakan Karatau madang dahulu, babuah babungo alun, marantau bujang dahulu, di rumah paguno balun mengakibatkan pemuda Minang untuk pergi merantau sedari muda.

(Oleh karena sistem kekerabatan Matrilineal inilah makanya ayah saya tak pulang-pulang ke Padang hingga sekarang :p).

• Faktor Ekonomi

Karena pertumbuhan penduduk yang tidak diiringi dengan bertambahnya sumber daya alam yang dapat diolah bisa dijadikan alasan kenapa pemuda Minang merantau. Jika dulunya hasil pertanian dan perkebunan, sumber utama tempat mereka hidup dapat menghidupi keluarga, maka kini hasil sumber daya alam yang menjadi penghasilan utama mereka itu tak cukup lagi memberi hasil untuk memenuhi kebutuhan bersama, karena harus dibagi dengan beberapa keluarga.

Selain itu, tumbuhnya kesempatan baru dengan dibukanya daerah perkebunan dan pertambangan. Faktor-faktor inilah yang kemudian mendorong orang Minang pergi merantau mengadu nasib di negeri orang. Untuk kedatangan pertamanya ke tanah rantau, biasanya para perantau muda ini menetap terlebih dahulu di rumah dunsanak yang dianggap sebagai induk semang. Para perantau baru ini biasanya berprofesi sebagai pedagang kecil.

• Faktor Perang

Beberapa peperangan juga dapat menimbulkan gelombang perpindahan masyarakat Minangkabau, terutama dari daerah konflik, setelah perang Padri, muncul pemberontakan di Batipuh menentang tanam paksa Belanda, disusul pemberontakan Siti Manggopoh menentang Belasting dan pemberontakan komunis tahun 1926-1927. Setelah kemerdekaan muncul PRRI yang juga menyebabkan timbulnya eksodus besar-besaran masyarakat Minangkabau ke daerah lain. Dari beberapa perlawanan dan peperangan ini, memperlihatkan karakter masyarakat Minang yang tidak menyukai penindasan. Mereka akan melakukan perlawanan dengan kekuatan fisik, namun jika tidak mampu mereka lebih memilih pergi meninggalkan kampung halaman (merantau).


Jadi, apa ada akhwat yang berniat untuk menikah dengan ikhwan Minang supaya bisa di ajak merantau bareng? :-D.





* Keratau madang di hulu Berbuah berbunga belum
Merantau Bujang dahulu Di kampung berguna belum
maksudnya: lebih baik pergi merantau karena dikampung belum berguna



Tulisan di ambil dari http://id.wikipedia.org/wiki/Orang_Minang dengan perubahan.
tentang masalah merantau lihat juga http://www.cimbuak.net/content/view/803/5/

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Journalicious - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -