Posted by : Sarah Larasati Mantovani Sunday, 9 August 2015

"Kalau sudah lulus S2-nya jangan lupa balik lagi ke sini ya"
(Pak Hasan, zaman saya S1 dulu beliau masih jadi Dosen Hukum Pidana Tindak Pidana Khusus)

"Ayo kamu lanjut S2 Hukum", berkali-kali terdengar ayah saya menyemangati saya seperti itu. Beliau tambah bersemangat lagi untuk memotivasi saya ambil S2 Hukum setelah mendengar langsung dari Ketua Yayasan kampus saya saat S1 Hukum dulu, Ketua Yayasan saya akan memberikan beasiswa S2 di kampusnya untuk dosen-dosen yang mengajar di sana, bahkan tawaran tersebut -yang saya dengar- tidak hanya untuk calon dosen tapi juga untuk mahasiswa S1 yang baru lulus di kampus S1 saya, asalkan setelah selesai kuliah harus mengajar di sana.
Tawaran tersebut, saya akui, begitu menggoda. Para penuntut ilmu pasti akan tertarik mendengarnya. Alasan saya ingin kuliah lagi suatu saat nanti selain untuk menunjang penelitian saya (Di negeri kita sayangnya masih mengutamakan gelar jika ingin "dianggap" :-Sigh) juga kebermanfaatan untuk umat kelak.
Namun ada beberapa pertimbangan jika saya lanjut kuliah Hukum lagi di sana,
Pertama, saya sudah merencanakan jika saya akan melanjutkan kuliah Hukum lagi (baik itu S2 atau S3) maka jurusan yang harus saya ambil ialah Hukum Tata Negara sesuai dengan minat saya saat S1 Hukum dulu. Sedangkan yang saya tahu, di sana tidak ada jurusan Hukum Tata Negara, hanya sekarang belum mencari tahu lagi apakah sudah ada jurusan itu.
Kedua, masih berhubungan dengan poin pertama, saya juga sudah menyusun tema tesis atau disertasi yang akan saya ambil. Tema tesis atau disertasi yang akan saya ambil tidak jauh-jauh dengan tesis saya kemarin saat kuliah S2 Pemikiran dan Peradaban Islam.
Ketiga, persiapan fisik dan mental. Kuliah atau belajar itu, menurut saya, sangat menyenangkan tapi ketika harus menulis Tesis atau disertasi maka dibutuhkan persiapan fisik dan mental yang lebih apalagi kalau dapat (lagi) dosen pembimbing yang super perfeksionis, hal lain saya cukup idealis saat menulis, salah satunya harus mengutamakan sumber primer daripada sumber sekunder.
Keempat, saya masih punya obsesi untuk menelurkan buku. Mungkin bisa saja sambil menulis buku tapi saya tidak yakin akan bisa fokus kuliah, hehe.
Kelima, persiapan materi. Untuk yang terakhir ini, saya tidak mungkin lagi mau menyusahkan orangtua untuk membiayai bahan-bahan penelitian saya maupun saat penyusunan (seperti print, fotokopi, dsbnya).
Dari kelima poin di atas, yang lebih penting lagi ialah istikharah dengan musyawarah pada Allah dan musyawarah dengan meminta pendapat pada orang-orang terdekat.
‪#‎galau‬ colonthree emoticon

{ 1 comments... read them below or add one }

  1. Assalamualaikum wr.wb mohon maaf kepada teman teman jika postingan saya mengganggu anda namun apa yang saya tulis ini adalah kisah nyata dari saya dan kini saya sangat berterimah kasih banyak kepada Mbah Rawa Gumpala atas bantuan pesugihan putihnya tampa tumbal yang sebesar 15m kini kehidupa saya bersama keluarga sudah sangat jauh lebih baik dari sebelumnya,,saya sekaran bisa menjalanka usaha saya lagi seperti dahulu dan mudah mudahan usaha saya ini bisa sukses kembali dan bermanfaat juga bagi orang lain,,ini semua berkat bantuan Mbah Rawa Gumpala dan ucapa beliau tidak bisa diragukan lagi,bagi teman teman yang ingin dibantuh seperti saya dengan pesugihan putih bisa anda hubungi di no 085 316 106 111 jangan anda ragu untuk menghubuni beliau karna saya sud ah membuktikannya sendiri,karna Mbah tidak sama seperti dukun yang lain yang menghabiskan uang saja dan tidak ada bukti sedankan kalau beliau semuanya terbukti nyata dan sangat dipercay,,ini unkapan kisah nyata dari saya pak Rudi di semarang.Untuk lebih lenkapnya silahkan buka blok Mbah di ��PESUGIHAN PUTIH TANPA TUMBAL��

    ReplyDelete

- Copyright © Journalicious - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -