Posted by : Sarah Larasati Mantovani Thursday, 2 October 2014

Gender dalam KBBI Online
Beberapa jam yang lalu, saya membaca tulisan seorang rekan wartawan dalam blognya. Dia membahas tentang istilah-istilah asing yang biasa digunakan orang-orang Indonesia saat mengobrol maupun menulis, termasuk kata Gender. Istilah Gender, ungkap teman saya, ternyata tidak ada dalam kamus rujukan rakyat Indonesia - Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Setelah itu, saya jadi penasaran ingin membuktikan sendiri dengan mencari kata Gender dalam mesin KBBI online. Nah ternyata Istilah Gender memang tidak ada dalam KBBI online, tanya kenapa?. Malah menurut KBBI, gender merupakan gamelan Jawa yang terbuat dari bilah-bilah logam berjumlah empat belas buah dengan penggema dari bambu. Jadi gender menurut KBBI merupakan alat musik pukul 
Padahal KBBI sendiri dibuat oleh orang-orang Kristen dimana Kristen sendiri dalam sejarahnya telah ter-barat-kan dan tuntutan kesetaraan gender juga pertama kali datang dari Kristen (baca: Barat). Selain itu, kata Gender juga tidak saya temukan dalam manuskrip-manuskrip yang membahas pergerakan perempuan Indonesia (baik itu koran yang diterbitkan oleh pergerakan perempuan maupun buku-buku sejarah jaman Orde lama, termasuk Sedar).
Ini artinya, Indonesia sejak lama memang tidak mengenal Kesetaraan Gender, begitu pula dengan adat istiadatnya, walaupun memang masih ada sisa-sisa hukum matrilinial di beberapa daerah, seperti Aceh dan Minang, tapi itu tidak bisa dijadikan bukti kuat bahwa Indonesia dulunya pernah mengenal ataupun melaksanakan kesetaraan gender.
Apalagi para Mujahidahnya dulu yang terdiri dari Aisiyah, Muslimat NU, Wanudidjo Utomo (Sarekat Islam bagian Wanita) maupun Jong-Islamieten-Bond Dames-Afdeling (JIBDA – JIB bagian Wanita), saya juga tidak yakin kalaupun mereka masih hidup, mereka akan mendukungnya. Memaksakan kesetaraan gender agar diterapkan sama saja dengan memerkosa budaya Indonesia, kenapa? Ya karena budaya asli Indonesia, terutama para perempuannya, terkenal dengan budaya ketimurannya, terlepas dari segala degradasi moral yang dialami bangsa ini sekarang.
Well, saya pikir daripada laksanakan Kesetaraan Gender, lebih baik berdayakan para suami yang berasal dari golongan ekonomi bawah (yang saya dengar dari para Feminis itu) kerjanya hanya mengurusi burung dalam sangkar, sementara Istrinya membanting tulang bekerja di luar dan bagaimana agar para suami menjadi Imam yang lebih baik untuk Istri dan keluarganya. Bagaimana pun, solusi kesetaraan gender hanya seperti gali lubang tutup lubang. Kalau kata Soekarno dalam buku Sarinah, Feminisme malah tidak bisa menutup retak yang ada dalam jiwa perempuan...
Lebih baik pula ganti kata gender dengan gendar, karena gendar lebih terdengar ramah dan renyah di telinga saya daripada gender.

*tulisan edisi Lapar

{ 1 comments... read them below or add one }

- Copyright © Journalicious - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -