Posted by : Sarah Larasati Mantovani Thursday, 3 September 2015


An-Nisa, salah satu surat yang sering digugat oleh Feminis. Lebih spesifik lagi, mereka menggugat salah satu ayat dalam surat ini, yaitu ayat 34 (selain ayat tentang waris). Ayat ini, kata mereka, mendukung kekerasan terhadap perempuan, terutama pada "wadhribuu hunna" (dan pukullah mereka) pada baris keempat. 

 Ibnu Katsir memaparkan dalam tafsir Ibnu Katsir, nusyuz dalam surat an-Nisa artinya tinggi diri; wanita yang nusyuz, ialah wanita yang bersikap sombong terhadap suaminya, tidak mau melakukan perintah suaminya, berpaling darinya, dan membenci suaminya.

Pada ayat 34 sebelum kata wadhribuu hunna, Allah telah menyuruh para suami untuk memperlakukan istrinya yang nusyuz dengan menasehatinya secara baik-baik terlebih dulu, "kita harus utamakan nasehat", jelas dosen Fahmu Nusus Qur'an dan Sunnah Universitas Muhammadiyah Surakarta, Dr. Abdul Kholiq Hasan El-Qudsy yang merupakan alumni Islamic Science University, Sudan, belum lama ini.

Kemudian apa indikasi dari nusyuz tersebut? Yaitu adanya ketidaktaatan atau meninggalkan kewajiban sebagai istri. Menurut Dr. Hasan, adanya istri yang nusyuz, karena para suami tidak mempunyai sifat qawwam (kepemimpinan), "Jika laki-laki punya sifat qawwam maka tidak ada perempuan yang nusyuz", terangnya lagi. Sifat qawwam di sini dalam Miitsaq al-Usroh (Piagam atau Tatanan Keluarga) yang dikeluarkan oleh International Islamic Committee for Woman and Child (IICWC) dan ditulis oleh para ulama di Timur Tengah dan Afrika, salah satunya syaikh Dr. Yusuf Qaradhawi, menyebutkan empat unsur sifat kepemimpinan, yaitu syura (musyawarah), perawatan, perlindungan dan nafkah.

Memberi nasehat kepadanya, terang Sayyid Quthb dalam tafsirnya Fii Zhilalil Qur’an yang diterbitkan Gema Insani Press, merupakan tindakan pertama yang harus dilakukan. Inilah tindakan pertama yang harus dilakukan oleh pemimpin dan kepala rumah tangga, yaitu melakukan tindakan pendidikan, yang memang senantiasa dituntut kepadanya dalam semua hal. Akan tetapi dalam kondisi khusus ini, ia harus memberikan pengarahan tertentu untuk sasaran tertentu pula. Yaitu, mengobati gejala-gejala nusyuz, sebelum menjadi genting dan berakibat fatal.

Namun jika nasehat yang diberikan tidak mempan juga, maka dalam kondisi seperti ini ditangani dengan tindakan kedua dengan memisahkan tempat tidur mereka. menurut Sayyid Quthb, ada syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi suami apabila ingin memisahkan tempat tidur istrinya, yaitu pertama, pemisahan tersebut tidak dilakukan secara terang-terangan di luar tempat pasangan suami istri tersebut biasa untuk berduaan, kedua, tidak melakukan pemisahan di depan anak-anak karena hal tersebut akan menimbulkan dampak negatif bagi mereka, ketiga tidak melakukan pemisahan dengan pindah ke orang lain, dengan menghinakan istri atau menjelek-jelekkan kehormatannya dan harga dirinya karena yang seperti itu akan menambah konflik. Tujuan dari pemisahan tempat tidur itu ialah untuk mengobati nusyuz, bukan untuk merendahkan istri dan merusak anak-anak.

Jika tindakan kedua ini tidak berhasil juga, masih ada tindakan terakhir yang sering disalahpahami maksudnya. Tindakan terakhir ini, terang Sayyid Quthb, walaupun lebih keras dan lebih kecil dampaknya dibandingkan dengan kehancuran institusi rumah tangga yang disebabkan oleh nusyuz.

Pemukulan yang dilakukan, bukanlah untuk menyakiti, menyiksa apalagi memuaskan diri. Juga tidak boleh dilakukan dengan keras dan kasar. Pemukulan yang dilakukan haruslah dalam rangka mendidik, yang harus disertai dengan rasa kasih sayang seorang pendidik, sebagaimana yang dilakukan seorang ayah terhadap anak-anaknya dan yang dilakukan guru terhadap muridnya. Semua tindakan ini juga tidak boleh dilakukan jika kedua pasangan berada dalam kondisi rumah tangga yang harmonis.

Begitu pun, Ibnu Katsir dalam tafsirnya, para suami boleh memukul istri dengan pukulan yang tidak melukai. Sebagaimana yang pernah disebutkan di dalam kitab Sahih Muslim, dari Jabir, dari Nabi Saw., bahwa Nabi Saw., pernah bersabda saat haji wada’:
“Bertakwalah kepada Allah dalam urusan wanita, karena sesungguhnya mereka di sisi kalian merupakan penolong, dan bagi kalian ada hak atas diri mereka, yaitu mereka tidak boleh mempersilakan seseorang yang tidak kalian sukai menginjak hamparan kalian. Dan jika mereka melakukannya, maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak melukakan, dan bagi mereka ada hak mendapat rezeki (nafkah) dan pakaiannya dengan cara yang ma’ruf”.

Abu Dawud, Nasa’I, dan Ibnu Majah meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Janganlah kamu memukul hamba-hamba wanita Allah”. Maka, datanglah Umar ra. kepada Rasulullah Saw. seraya berkata, “kaum wanita sudah berani menentang suaminya”. Lalu Rasulullah Saw. memberikan izin untuk memukul mereka. Kemudian banyak wanita yang mengelilingi keluarga Rasulullah Saw. dengan mengeluhkan tindakan suami mereka. kemudian ia bersabda, “Sesungguhnya keluarga Muhammad telah dikelilingi oleh kaum wanita yang banyak, yang mengeluhkan tindakan suami mereka”. Maka, mereka (suami-suami semacam itu) bukanlah orang-orang yang baik di antara kamu. Rasulullah juga bersabda,

“Janganlah seseorang di antara kamu memukul istrinya bagaikan Unta, yaitu dia memukulnya pada pagi hari, tetapi kemudian pada malam harinya mencampurinya”.

Ia juga bersabda,
“sebaik-baik kamu ialah orang yang paling baik terhadap istrinya (keluarganya), dan aku adalah orang yang paling baik terhadap keluargaku di antara kalian”.

Apabila tujuan telah tercapai, maka tiga tindakan tersebut harus dihentikan. Karena tujuan yang berupa ketaatan inilah yang memang diinginkan, yaitu ketaatan yang positif, bukan ketaatan karena tekanan. Karena ketaatan semacam ini tidak layak untuk membangun institusi rumah tangga yang merupakan basis jama’ah masyarakat. Sayyid Quthb menafsirkan, melakukan tiga tindakan tersebut setelah terwujudnya ketaatan istri kepada suami ialah perbuatan aniaya dan melampaui batas, seperti mencari-mencari cara untuk menyusahkan istri.

Mengenai otoritas pemimpin sendiri pun ada ketentuannya, yaitu tidak merendahkan, tidak menzhalimi, tidak menyalahgunakan. Lebih lanjut lagi dalam Miitsaq al-Usroh, "Seorang laki-laki adalah pemimpin dalam keluarga, karena keluarga merupakan unit sosial (gambaran kecil sebuah masyarakat) yang terdiri dari beberapa orang.  Maka harus ada kepemimpinan agar keluarga tidak rusak  dan hancur. Seorang laki-laki  layak untuk bertanggung jawab terhadap berbagai permasalahannya karena fitrahnya, tabiat tubuh dan jiwanya.  Bukan kepemimpinan yang menaklukan atau monopoli dan pelampiasan tapi ia adalah tanggung jawab  dan  beban dalam memelihara keluarga dan menjaganya".


Sehingga laki-laki atau suami yang shalih jika mendapati bidadari dunianya berbuat ketaatan dan dapat menyejukkan dirinya, maka ia akan bersyukur, namun jika ia mendapati bidadari dunianya itu tidak melakukan ketaatan, maka ia tidak akan berbuat zhalim, apalagi sampai melakukan kekerasan yang sesungguhnya sangat dilarang dalam Islam.

{ 2 comments... read them below or Comment }

  1. Assalamualaikum... Maaf ya SOBAT saya mau jujur bahwa awalnya saya hanya mencoba-coba bermain togel karna saya terlilit hutang yang sangat banyak sekitar Rp 235 juta karna hutang saya banyak akhirnya saya mencari jalan pintas meskipun itu dilarang agama islam apa boleh buat nasi sudah jadi bubur dan akhirnya saya menemukan seorang dukun yang bisa membantu saya melalui jalan togel dengan lantaran bantuan MBAH WIRANG kehidupan saya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya karna itu semua berkat bantuan MBAH WIRANG dengan waktu yang singkat saya sudah membuktikan namanya keajaiban satu hari bisa merubah hidup kita menjadi kaya, buktinya angka pemberian MBAH 4D nya pada tanggal 23/10/2016 yaitu 9512 tembus alhamdulillah saya menang sebanyak Rp.480 juta dan alhamdulillah semua hutang-hutang saya sudah bisa terlunasih juga... Mungkin saudara/saudari diluar sana lagi butuh angka togel 2D|3D|4D silahkan konsultasi atau minta bantuan dengan MBAH WIRANG jangan takut anda bisa hubungi di nomer ( 082346667564 / +6282346667564 )

    Tetap Semangat Semua Permasalahan Pasti Ada Jalan KeluarNya...

    ReplyDelete
  2. Assalamualaikum wr.wb mohon maaf kepada teman teman jika postingan saya mengganggu anda namun apa yang saya tulis ini adalah kisah nyata dari saya dan kini saya sangat berterimah kasih banyak kepada Mbah Rawa Gumpala atas bantuan pesugihan putihnya tampa tumbal yang sebesar 15m kini kehidupa saya bersama keluarga sudah sangat jauh lebih baik dari sebelumnya,,saya sekaran bisa menjalanka usaha saya lagi seperti dahulu dan mudah mudahan usaha saya ini bisa sukses kembali dan bermanfaat juga bagi orang lain,,ini semua berkat bantuan Mbah Rawa Gumpala dan ucapa beliau tidak bisa diragukan lagi,bagi teman teman yang ingin dibantuh seperti saya dengan pesugihan putih bisa anda hubungi di no 085 316 106 111 jangan anda ragu untuk menghubuni beliau karna saya sud ah membuktikannya sendiri,karna Mbah tidak sama seperti dukun yang lain yang menghabiskan uang saja dan tidak ada bukti sedankan kalau beliau semuanya terbukti nyata dan sangat dipercay,,ini unkapan kisah nyata dari saya pak Rudi di semarang.Untuk lebih lenkapnya silahkan buka blok Mbah di ��PESUGIHAN PUTIH TANPA TUMBAL��

    ReplyDelete

- Copyright © Journalicious - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -