Posted by : Sarah Larasati Mantovani Friday, 16 September 2011

“Tiga perkara, jika terdapat dalam diri seseorang, maka dia akan merasakan manisnya iman: Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai daripada yang lainnya, mencintai seseorang hanya karena Allah dan enggan untuk kembali kufur setelah Allah menyelamatkannya dari kekufuran itu sebagaimana dia enggan bila dicampakkan ke Neraka”.
(HR. al-Bukhari, Muslim)


Mukaddimah
Tulisan ini saya peruntukkan bagi teman-teman yang sedang jatuh cinta atau yang sedang menjalani proses ta’aruf dengan seseorang dan sebagai bahan koreksian bersama-khususnya untuk saya. Selamat membaca!



Beberapa bulan yang lalu, saya sempat membaca status dua orang teman saya di Facebook, yang pertama berasal dari teman ikhwan saya yang kuliah di al-Azhar Cairo, kira-kira dia menulis status seperti ini, “Salahkah bila aku jatuh cinta?”. Kemudian, yang kedua berasal dari teman akhwat, yang mungkin ia tujukan untuk pacarnya, “Aku mencintaimu karena Allah”. Untuk status yang kedua ini membuat hati saya tergelitik, apakah konsep cinta seperti ini yang memang di dasari karena Allah? Kalau bukan, lalu seperti apa konsep cinta yang memang didasari karena Allah?  Dimana kita harus menempatkan perasaan kita saat kita jatuh cinta? Kenapa harus cinta karena Allah? Bagaimana ciri-cirinya?. Hal inilah yang akan saya bahas lebih jauh dalam tulisan ini.





Jatuh Cinta, Berjuta Rasanya


Membicarakan tentang cinta memang tiada habisnya. Bahkan demi cinta, beratus-ratus puisi rela ditulis oleh Kahlil Gibran dan demi cinta pula, Juliet rela mati demi sang Romeo, tapi saya yakin teman-teman pasti ngga ada yang berani melakukan apa yang dilakukan oleh Juliet itu, apalagi jika cinta itu sudah didasari dengan ketakwaan kepada Allah. Insya Allah pasti udah pada ogah duluan, hehehe.

Kalau kata Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah dalam bukunya Bercinta Dengan Allah,

“Dengan cinta, seorang pengecut bisa menjadi pemberani, seorang pelit bisa menjadi dermawan, seorang bodoh bisa menjadi cerdas, seorang gagap menjadi cakap, seorang lemah semangat bisa termotivasi. Cinta adalah penuntun etika serta pintu pertama yang mengungkap pikiran dan kecerdasan. Dengan cinta, segala rekayasa dan penghalang dapat terlewati. Demi cinta, semangat bisa bergelora. Cinta dapat menenangkan gejolak moral”

Sebenarnya tak ada yang salah bila kita jatuh cinta, yang salah adalah bila kita tidak bisa menempatkan perasaan “jatuh cinta” itu pada tempat yang semestinya. Nah, kemana kita harus tempatkan perasaan yang bergelora nan membara tersebut?. Yang pasti bukan ke paranormal cinta, melainkan kita tempatkan perasaan itu hanya di hati dan kita kembalikan rasa cinta itu pada sang Empunya Cinta, yaitu Allah subhana wa ta’ala. Karena semua rasa cinta yang kita rasakan berasal dari-Nya dan hanya Dia-lah tempat kembali semua perasaan yang kita rasakan tersebut.

Kemudian. apakah cukup hanya sampai disitu aja? Tentu tidak, karena selain harus mengembalikan perasaan cinta itu pada tempat yang semestinya, kita juga harus menahan gejolak asmara yang membara alias mengendalikan rasa cinta tersebut (kalo kata nafsu mah, “mana tahaaan…”). Nah, bagaimana cara mengendalikannya? Perbanyaklah mengingat Allah (seperti dengan dzikir dan puasa), kurangi komunikasi/pertemuan yang ngga perlu dengan si “doi” dan perbanyak melakukan kegiatan yang positif dan bermanfaat. Insya Allah, rasa cinta itu pasti bisa kita kendalikan.



Konsep Cinta Karena Allah


Seseorang yang mencintai karena Allah pasti akan mencintai segala sesuatu yang disenangi dan disukai Allah, termasuk mencintai saudaranya sesama muslim sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Selain itu, seseorang yang mencintai karena Allah dan Rasul-Nya tidak akan menggunakan cinta yang dimilikinya untuk bermaksiat kepada Allah, dia tidak ingin cintanya ternoda karena hawa nafsunya, dia tetap menjaga agar cinta yang dimilikinya sesuai dengan syari’at dan ketentuan-Nya dan rasa cemburu yang ia punya sesuai dengan kadar iman dan cinta yang dimilikinya.

Seseorang yang mencintai karena Allah pasti akan terus berusaha agar tidak membuat Allah cemburu, karena sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Hurairah:

“Allah swt itu Pemcemburu. Kecemburuan Allah adalah ketika orang yang beriman melanggar apa yang dilarang-Nya”.

Selain itu, kecemburuan Allah terhadap hamba-Nya juga tergambar dalam sebuah hadis Qudsi:

“Anak Adam, Aku telah menciptakanmu untuk diri-Ku dan Aku menciptakan segala sesuatu untuk dirimu. Oleh karena itu, sebagai hak-Ku, jangan lah kamu terlena dengan sesuatu yang Aku ciptakan untukmu dan berpaling dari Penciptamu. Sungguh, Aku lebih baik dari segala sesuatu”.

Lagipula, cinta yang sejati adalah cinta yang karena Allah. Konsep cinta seperti ini akan senantiasa lulus dari berbagai ujian dan akan mendatangkan keberkahan kepada para pemiliknya. Konsep cinta karena Allah ini tak akan lekang oleh masa karena kita mencintai berdasarkan takwa, bukan karena hawa nafsu belaka.

Kita juga harus percaya jika kita mencintai karena Allah maka Allah pasti akan menjaga dan memelihara cinta yang kita punya. Yakin-lah bahwa segala sesuatu itu akan indah apabila memang sudah waktunya dan dengan begitu cinta yang kita miliki akan tersalurkan sesuai dengan ketentuan-Nya.

Jadi, yuk kita saling mencintai karena Allah! :-)



Referensi:O. Solihin, Jangan Nodai Cinta, Gema Insani Press, Jakarta.
Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah, Bercinta Dengan Allah, Pustaka Maghfirah.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Journalicious - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -