Hikmah Dibalik Ayat Nusyuz


An-Nisa, salah satu surat yang sering digugat oleh Feminis. Lebih spesifik lagi, mereka menggugat salah satu ayat dalam surat ini, yaitu ayat 34 (selain ayat tentang waris). Ayat ini, kata mereka, mendukung kekerasan terhadap perempuan, terutama pada "wadhribuu hunna" (dan pukullah mereka) pada baris keempat. 

Mengenang P Ramlee Melalui Upin Ipin

"Saye suka bujang lapuk, alibaba lapuk, semue yang lapuk-lapuk saye suka"
(Uncle Mutu, Film kartun Upin dan Ipin episode "Penyair Melayu P. Ramlee" sebelum Maghrib waktu Jakarta tadi)

Imam Palestina: “Istri saya sudah memuliakan saya seperti Raja, mana mungkin saya melukainya?”

Wawancara Syaikh Syadi Filyan di Lapas Anak Pria Tangerang
02 Juli 2015
Ada kisah menarik penuh kesan yang saya temukan dari Imam Palestina, Syaikh Syadi Filyan. Kisah ini saya dapatkan setelah mewawancarai beliau, saat salah seorang teman saya tiba-tiba bertanya soal poligami kepada ayah dua anak bernama Qasam (6 tahun) dan Sarah (4 tahun) ini.
“Syaikh kenapa ngga poligami? Kan sunnah Rasul”, spontan teman saya bertanya setelah sesi wawancara telah diakhiri.
Kontan saja, saya dan teman-teman yang menemani wawancara kaget, termasuk mas Ardhi penerjemah dari Sahabat Al-Aqsha.
“Sebelum menanyakan poligami, tanya dulu bagaimana keluarganya, anaknya berapa, nama istrinya”, mas Ardhi memberikan instruksi.
Akhirnya pertanyaan tentang poligami diawali dengan menanyakan keluarga Pria asal Ramalah ini, baru setelahnya (dengan penuh rasa sungkan dan segan), mas Ardhi menyampaikan pertanyaan teman saya soal poligami.
Imam dan Khatib Masjid Burham ini tersenyum, “Istri saya sudah begitu memuliakan dan melayani saya seperti Raja, mana mungkin saya melukainya (dengan menikah lagi)?”.
Saya, ummi Suci Ummi Adam, bunda Wylvera Windayana dan Sarah Daryanti langsung speechless dan terkesima mendengar jawaban beliau :’)
“Dan dia istri saya untuk yang pertama dan yang terakhir (awalun wa akhirun)”, pungkasnya menegaskan.
Saya berhusnudzon, bukan berarti beliau menganggap poligami itu bukan sunnah Rasul namun beliau mungkin merasa tidak mampu berbuat adil dengan menikah lagi, karena dalam surat An-Nisa ayat 3 pun Allah menegaskan, jika tidak mampu untuk berbuat adil maka sebaiknya cukup satu saja.

Kejutan Tak Terduga di balik Penulisan Hamka yang Melegenda (Dari Haji Agus Salim Hingga D.N Aidit)

Andung Azizah (Kiri) dan ibu saya (kanan)
"Kalian beruntung sekarang tak susah-susah lagi untuk cari ilmu, ulama kita dulu harus berjalan jauh ke surau demi cari ilmu", nasehat andung Azizah Hamka pada kami bertiga (saya dan kedua cucu andung, Akbar dan Iqbal).
Tak disangka, sehari sebelum peringatan 34 tahun kepergian Buya Hamka yang jatuh pada hari ini dan di saat saya masih menyelesaikan tulisan bersambung saya tentang Hamka yang Melegenda, saya dan keluarga mendapat kejutan tak terduga berupa kunjungan silaturahmi dari salah satu keluarga Buya Hamka pada Kamis kemarin (23/07/2015).
Siang itu menjadi hari bersejarah, tidak hanya soal kunjungannya saja tetapi juga obrolan kami berubah menjadi diskusi sejarah, tak peduli pada matahari yang sinarnya begitu cerah hingga membuat gerah dan wajah lelah, walau demikian suasana tetap meriah (eh keterusan tongue emoticon ).
Banyak cerita menarik yang kami dapatkan dari andung Icah (nama kecil andung Azizah), di antaranya tentang Masyumi dan PKI. Sudah banyak tertulis dalam sejarah jika Masyumi dan PKI merupakan musuh bebuyutan satu sama lain. Kisah tentang permusuhan ini masih kental terlekat dalam ingatan andung.
Waktu itu orang-orang PKI mengejek Haji Agus Salim yang sedang berpidato dengan menirukan suara kambing, "embeeekk... embeeekk", hal ini karena janggut Haji Agus Salim menurut orang-orang PKI mirip hewan berkaki empat itu.
"Saya mau menanggapi jika kambing-kambing ini keluar dari ruangan atau mereka bisa berbicara dengan bahasa yang sopan", dengan elegan dan diplomatis Laki-laki yang ahli dalam tujuh bahasa ini menjawab ejekan tersebut*.
Ki-kanan: Akbar, Nambo, Ibu, Andung, Mama, Papa,
kakak, saya. Sayang Iqbal ga ikut foto :p
Ada pula kisah lain dari salah satu tokoh Partai Komunis Indonesia yang terkenal dalam sejarah, D.N Aidit yang mempunyai nama asli Djafar Naim Aidit**. Saat itu istrinya sudah tiga hari sakit dan belum juga dibawa ke dokter, akhirnya oleh salah satu tokoh Masyumi (kalau saya tidak salah dengar, Mohammad Natsir) Aidit ditanyai, "kenapa kau tidak bawa istrimu ke dokter?", kemudian laki-laki berdarah Minang ini menjawab, "karena saya tidak punya uang", akhirnya atas biaya tokoh Masyumi tersebut, istri Aidit bisa dibawa ke dokter.
Pelajaran yang bisa diambil dari dua kisah di atas ialah tidak perlu bersikap reaktif saat diejek atau dihina lawan, karena dari sana akan terlihat mana yang akhlaknya lebih baik, kemudian jangan kita membenci seseorang atau suatu kelompok hingga hilang rasa adil kita, terakhir walau Masyumi dan PKI bermusuhan namun jika salah satunya ada kesulitan, tetap harus ditolong.
MasyaaAllah... tarimo kasih untuak pelajaran nan alah dibagi, andung :')
Terima kasih banyak juga untuk hadiahnya Ibu dan Akbar :')
Barakallahu fiikum wallahu yahfazhukum wayar'aakum...
*correct me if i'm wrong
** sumber dari Prof. Ahmad Mansur Suryanegara saat seminar Islam dan Nusantara pada tanggal 05 Juli 2015 di Aula Gedung Djoeang, Menteng, Jakarta Pusat

Feminis, Musuh Para Ibu dan Istri

"...faktor-faktor dan hambatan dalam pelaksanaan konvensi (CEDAW/Konvensi Penghapusan Segala Diskriminasi Terhadap Perempuan, red) adalah Komite yakin bahwa perilaku budaya yang menetapkan perempuan sebagai ibu dan istri merupakan hambatan besar dalam pemajuan perempuan" (Achie Sudiarti Luhulima, 2007:240).

Ayuna Namanya

Sore tadi, saat sedang menjaga keponakan di depan Lobby utama Rumah Sakit Pusat Pertamina, tiba-tiba seorang Balita perempuan memberikan senyumannya yang paling manis pada saya dari kejauhan, beberapa kali ia memberikan ekspresi seperti itu. MasyaaAllah... senang sekali rasanya saya, senyumannya bak rinai hujan yang meneduhkan dan tanpa beban.

For TrainLovers Info*: Langkah Menukar Tiket

Kereta Krakatau
Foto: Google
Sebagai pecinta transportasi perkeretaapian (tepatnya sejak bolak balik pulang pergi Jakarta-Solo), masih banyak hal yang masih belum saya tahu dan harus saya pelajari, termasuk soal menukar tiket.

Dua kali pengalaman mengundur jadwal kepulangan membuat saya jadi tahu, jika kita ingin menukar tiket kereta kita dengan harga tiket yang sama dengan harga tiket yang kita punya, maka kita harus melakukan langkah-langkah seperti berikut:

1. Sebelum kita pergi ke loket stasiun maka tiket yang kita punya harus dicetak terlebih dulu di Mesin CTM (Cetak Tiket Mandiri) atau jika tidak ada CTM bisa minta cetak di Loket (dengan syarat jika kita telah membeli tiket di luar stasiun seperti di Alfamart, dan lainnya).

2. Setelah tiket dicetak, kemudian isi formulir permintaan tiket yang telah disediakan. Misalnya, tiket yang kita punya jadwal kepulangannya tanggal 17 Februari, kemudian kita ingin mengundur jadwal kepulangan jadi tanggal 01 Maret, maka yang harus ditulis dalam formulir adalah jadwal kepulangan tanggal 01 Maret.

3. Selesai mengisi formulir, bawa formulir, tiket kereta kita yang telah dicetak plus Kartu Identitas kita ke bagian loket (biasanya mengambil nomor antrian terlebih dulu)

4. Petugas ticketing biasanya akan memeriksa dan memastikan bahwa kereta yang ingin kita pesan belum penuh tempat duduknya.

5. Petugas ticketing biasanya akan memberi info jika tiket yang ingin kita tukar akan dikenai charge 25 persen dari harga tiket kita sebelumnya. Namun dari pengalaman saya, jika harga tiket yang ingin ditukar lebih rendah dari harga tiket kita sebelumnya maka kita tidak perlu lagi membayar charge 25 persen tersebut (karena charge 25 persen sudah termasuk di dalamnya), hanya saja petugas ticketing akan bertanya apakah kita tidak keberatan jika sisa uang dari harga tiket tidak dikembalikan?. Kemudian petugas ticketing akan membacakan jadwal kepulangan atau keberangkatan kita untuk memastikan kembali.

Tips penting!

Kita bisa request tempat duduk pada petugas ticketing, tentu dengan syarat kita harus pesan satu bulan sebelumnya karena biasanya kereta cepat penuh. Biasanya saya memilih tempat duduk dekat jendela (kalau tidak A ya E), namun karena tiket yang telah saya pesan sebelumnya tempat duduknya memang dekat jendela, maka saya akan minta pada petugas ticketing agar tempat duduk dan gerbongnya sama dengan tiket yang telah saya pesan sebelumnnya.

*untuk postingan tentang kereta api selanjutnya maka akan saya singkat menjadi FTI.

Putih Biru, Benci Namun Rindu

Madrasah Tsanawiyah Negeri II Pamulang
Foto: Google
"Teeeeeeetttt!!!! Teeeeeeeeeeeeeeettttttt", bel masuk berbunyi dengan riang, Pertanda Guru Piket akan segera menutup pintu gerbang. Beberapa siswa-siswi yang baru datang segera berlarian kencang. Dengan wajah agak meradang, beliau memberikan kami sanksi yang cukup menantang. Saya yang pada saat itu terlambat, ikut mendapatkan sanksi menghafal sepuluh ayat surat Yasin pada saat itu juga, kalau tidak hafal maka tidak boleh masuk kelas untuk mengikuti pelajaran upset emoticon
Masa-masa putih biru di MadTsaNe Two Lang (Madrasah Tsanawiyah Negeri Dua Pamulang), sekolah yang paling saya kenang, saat menjalaninya saya merasa benci waktu itu xD. Salah satunya benci karena saya harus bertemu dan belajar bahasa Arab. Pada waktu itu memang saya pernah punya pengalaman buruk sama pelajaran satu ini, sampai saat saya telah lulus, ibu saya menanyakan sekaligus menawarkan apakah saya mau masuk Aliyah atau tidak, dan saya menjawab "tidak" dengan mantap, alasannya karena tidak mau bertemu dengan pelajaran bahasa Arab lagi. Namun sekarang saya malah merindukan belajar bahasa Arab :')
Di sekolah inilah, pertama kalinya saya mengenal dan belajar Qur'an Hadits, Akidah Akhlak, SKI (Sejarah Kebudayaan Islam), Bahasa Arab, dan Fikih.
Sungguh... saya merindukan saat diajari Biologi oleh almarhum Wakil Kepala Sekolah waktu itu, pak Harun, yang menggantikan Guru Biologi kami yang tidak masuk. Bagaimana hebohnya kelas saya saat beliau menjelaskan tentang masalah pembuahan manusia dengan bijak. Beliau guru paling ramah dan sangat baik yang pernah saya kenal...
Sungguh... saya merindukan saat diberi nasehat oleh almarhumah wali kelas kami di Tiga Delapan, Ibu Roslaini. Dengan penuh kesabaran, beliau memperlakukan kami yang terkenal paling berisik dan rusuh di antara tiga kelas lain.
Semoga Allah memberikan pahala yang melimpah pada mereka berdua....
Saat Study Tour ke Candi Prambanan, Yogyakarta.
Foto: Dok Pribadi
Sungguh... saya merindukan hafalan surat dan hadits dengan Guru Qur'an Hadits saya yang cadel, Ibu Nur'aini. Kalau sama beliau ga hafal, kami disuruh skotjam dan itu ga sendiri tapi rame-rame dengan beberapa teman yang ga hafal lainnya, sementara yang lainnya mengantri setoran hafalan ke beliau :')
Sungguh... saya merindukan belajar Aqidah Akhlak dengan pak Azhar, saat beliau menerangkan dalil aqli dan dalil naqli :')
Sungguh... saya merindukan saat diajari Ibu Zubaidah (sering kami panggil dengan Bu Zubed), Guru Fiqh kami yang terkenal disiplin, tegas dan "killer". Salah satu ilmu yang saya ingat dan pernah beliau ajarkan ialah doa sujud sajdah :')
Sungguh... saya merindukan saat belajar SKI, dan saya menyesal sewaktu Ibu Aliyah, Guru SKI saya menerangkan beberapa kali saya malah tertidur T.T
Kebencian yang pernah saya alami saat menjalani masa-masa putih biru sirna sudah oleh kerinduan yang amat sangat sewaktu diajari oleh para guru yang telah dengan ikhlas dan sabar mengajari saya... :')
Kalau boleh saya mengulang waktu, saya ingin mengulang masa-masa putih biru...
Semoga Allah memberikan pahala berlimpah untuk semua guru saya...

Ibu Hindu dan Keajaiban Shalat Tahajjud

Salah satu kampus Muhammadiyah
Foto: Dok. Pribadi
Berawal dari kata menunggu ternyata bisa menjadi sebuah obrolan yang mengalir dan mengasyikkan.
Itulah yang saya rasakan semalam, saat mengobrol dengan seorang Ibu asal Bali berusia 63 tahun di ruang tunggu dekat resepsionis, Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta Selatan.
Masing-masing dari kami mengawali pembicaraan dengan pertanyaan sederhana, siapa yang sedang dirawat dan kenapa penyebabnya. Akhirnya saya jadi mengetahui suami si ibu yang sedang dirawat karena sakit jantungtersebut pernah bekerja di Pertamina juga sama seperti ayah saya. Selain membahas tentang penyakit yang diderita suaminya, ia juga bercerita tentang anak-anaknya yang paling tertua umur 42 tahun (bisa dibayangkan berarti ibu ini menikah umur 20-an atau mungkin bisa lebih muda dari itu 😅), anaknya yang bungsu bekerja di Diknas dan pernah mendapat beasiswa lanjut kuliah ke Denmark.
Obrolan semakin menarik kala ibu itu bertanya mengenai kuliah saya, ternyata ibu berkacamata tersebut merupakan lulusan Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Palembang!. Ia bercerita waktu mau masuk kampus Muhammadiyah, ia diharuskan mengikuti ujian Al-Islam, Kemuhammadiyahan dan Bahasa Arab. Ibu yang tidak punya latar belakang kemampuan atau pendidikan bahasa Arab, akhirnya memutuskan untuk berdoa di waktu sepertiga malam, ia menyebutnya dengan "Shalat Tahajud".
"Saya berdoa, Tuhan jika engkau menghendaki aku masuk kampus Muhammadiyah maka berilah aku kemudahan dalam ujian bahasa Arab....", ceritanya dengan penuh meyakinkan.
"Saat berdoa itu sampai menangis saya dan sampai sekarang kalau ingat itu saya jadi merinding padahal saya bukan orang Islam...", tambahnya, seakan-akan seperti benar-benar telah merasakan manfaat besar dari shalat Tahajud.
Saya mengira awalnya ibu ini beragama Kristen, namun ternyata saya salah setelah ia menyebut asalnya yang dari Bali, ibu ini ternyata beragama Hindu.
"Akhirnya setelah shalat tahajud itu, nilai bahasa Arab saya mendapatkan A+ dan nilai saya paling tinggi di kelas saat itu", tuturnya.
Makanya, lanjut ibu yang tidak saya ketahui namanya itu, setiap ada muslim yang sedang kesulitan pasti selalu saya berikan saran, shalat tahajud lah, pasti nanti Tuhan berikan jalan keluar dari permasalahan kita.
"Memang bu, bagi kami -Muslim- shalat tahajud merupakan waktu yang paling dekat dengan Tuhan karenanya jika kita berdoa pada waktu tersebut insyaAllah dikabulkan", saya menanggapi.
Akhirnya obrolan kami selama hampir satu jam tersebut berakhir dengan pamitnya si ibu.
Allah... semoga engkau berikan cahaya Islam padanya... :')

Jempolnya Pelayanan Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP)

RSPP: We Care We Cure
Lokasi: kamar bekapai lantai empat dimana ibu dirawat
Foto: Dok. Pribadi
Gemas, itulah yang pertama kali saya rasakan saat mengetahui kondisi ibu yang telah sembuh, namun ternyata belum diizinkan pulang oleh dokter hari ini (13/01/2015), padahal endoskopi sudah selesai dilakukan dan keluhan-keluhan yang dirasakan ibu saat sakit alhamdulillah hilang. 
Kemudian setelah mendapatkan penjelasan dari suster yang ikut merawat ibu saya, barulah saya memahami jika ibu saya belum diizinkan pulang karena khawatir ada efek samping dari endoskopi yang dilakukan pada jam 11 tadi, karena khawatir itulah maka ibu saya tetap mendapatkan kontrol dan pengawasan dari rumah sakit, khususnya dari dokter yang merawat.
Setiap hari, sehari tiga kali, pagi-siang dan malam, ibu saya dan pasien lain tentunya, selalu dikontrol tensi dan suhu tubuhnya, namun khusus ibu saya biasanya ditambah dengan suntikan obat lambung seperti Omeprazole. Walau sudah sembuh pun, ibu saya tetap mendapatkan makanan sebagaimana pasien lain yang masih sakit, sehari tiga kali ditambah dengan snack dan pernah pula diberikan sekotak dus energen dengan berbagai rasa. 
Tidak hanya itu, para suster dan dokternya pun selalu memberikan semangat dan senyum ceria pada para pasien, hampir setiap hari di setiap pagi saya selalu mendengar kata-kata dengan mata bercahaya, "ayo dong semangat, mba/bu!" keluar dari mulut mereka. Terakhir adalah Securitinya, baru kali ini saya disapa "Selamat Pagi, bu, mau ke lantai berapa?" kemudian mereka memencet tombol lift untuk saya, hehe. 
Lantai Empat Bekapai
Foto: Dok Pribadi
Ada lagi cerita lain saat saya baru pulang dari Perpustakaan Nasional kemarin dalam keadaan hujan yang begitu deras dan saya berteduh di Pos keamanan, seorang satpam RSPP berusaha meminjamkan payung untuk saya agar saya bisa masuk ke dalam rumah sakit.
Sungguh, saya merasakan pelayanan yang diberikan RSPP berbeda dengan beberapa rumah sakit lainnya dengan kelas kamar yang sama. Mungkin ini karena moto "we care we cure" dan bekerja berdasarkan prinsip Profesional, Ramah dan Ikhlas yang memang benar-benar mereka implementasikan.
Terlepas dari saya yang pernah lahir di sini dan beberapa tokoh nasional seperti Buya Hamka dan Pak Harto yang sempat dirawat dan menghembuskan nafas terakhirnya di sini tapi pelayanan RSPP memang masyaAllah... benar-benar jempoooll.
Terima kasih ya Allah, Mama telah mendapatkan pelayanan terbaik :')
"Maka nikmat Tuhanmu yang mana kah yang kamu dustakan?"

- Copyright © Journalicious - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -